Skip navigation

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. LATAR BELAKANG

Meningitis merupakan salah satu kegawatdaruratan medik yang memberi resiko kecacatan dan kematian yang cukup tinggi. Siapapun bisa terkena bakteri meningitis, tetapi paling umum pada bayi dan anak-anak. Orang-orang yang telah lama atau kontak dekat dengan pasien meningitis yang disebabkan oleh Neisseria meningitidis atau Hib juga dapat berisiko tertular.

Tidak jarang organisme yang relatif memiliki derajat patogenitas rendah dapat menyebabkan meningitis atau abses otak. Demikian pula cairan serebrospinal (CSS) pada beberapa kasus justru merupakan media yang ideal untuk pertumbuhan kuman disamping hambatan antibodi dan sel radang untuk menembus jaringan saraf pusat oleh karena adanya  barrier darah otak. Dari segi klinis, infeksi intrakranial seringkali menunjukkan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Hingga penting untuk mengenal diagnosis secara dini dan memberikan pengobatan yang segera, tepat dan rasional untuk menghin dari kematian dan gejala sisa yang menetap.

Tingkat lanjut bakteri meningitis dapat mengakibatkan kerusakan otak, koma, dan kematian. Korban dapat menderita komplikasi jangka panjang, termasuk kehilangan pendengaran, penglihatan, keterlambatan mental, lumpuh, dan lain-lain.

  1. B. TUJUAN PENULISAN

1)      Tujuan Umum

  • Diharapkan melalui penyususan makalah ini pembaca mengerti dan memahami dengan jelas mengenai Meningitis.

2)      Tujuan Khusus

  • Diharapkan melalui penyusunan tugas ini penyusun dapat mengerti dan memahami teori mengenai Meningitis yang sangat dibutuhkan dalam persiapan penyusunan untuk menjadi perawat yang profesional.
  • Adapun tujuan dari penyelesaian makalah ini adalah sebagai salah satu syarat kelengkapan tugas praktek profesi NERS mata kuliah Medikal Bedah.
  1. C. Metode Penulisan

Penulisan makalah ini menggunakan metode diskriptif melalui study kepustakaan, adapun kapasitas yang dilakukan pada study kepustakaan adalah pengumpulan buku-buku yang berkaitan dengan Asuhan Keperawatan pada Meningitis.

  1. D. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan makalah ini dibuat secara sistematika yang terdiri dari:

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Tujuan Penulisan

C. Metode Penulisan

D. Sistemaktika Penulisan

BAB II TINJAUAN TEORITIS

  1. Konsep Dasar

1. Definisi Meningitis

2. Klasifikasi Meningitis

3. Etiologi

4. Patofisiologi

5. Manifestasi Klinis

6. Komplikasi

7. Pemeriksaan Diagnostik

8. Penatalaksanaan Medis

B. Tinjauan Teori Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

2. Diagnosa Keperawatan

3. Rencana asuhan Keperawatan

BAB III TINJAUAN KASUS

  1. Asuhan Keperawatan
    1. Pengkajian
    2. Analisa Data
    3. Diagnosa Keperawatan
      1. Perencanaan Keperawatan
      2. Catatan Perkembangan
      3. Pembahasan Kasus

BAB IV PENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Saran

BAB I I

TINJAUAN TEORITIS

  1. A. KONSEP DASAR
  2. 1. Definisi

Meningitis adalah infeksi cairan otak dan disertai proses peradangan yang mengenai piameter, araknoid dan dapat meluas ke permukaan jaringan otak dan medula spinalis yang menimbulkan eksudasi berupa pus atau serosa yang terdapat secara akut dan kronis.

Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau jamur(Smeltzer, 2001).

Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme Pneumococcus, Meningococcus, Stafilococcus, Streptococcus, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996).

Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001).

  1. 2. Klasifikasi
  • Purulenta & Serosa

Purulenta. Penyebabnya adalah bakteri (misalnya: Pneumococcus, Meningococcus, Haemofillus Influenza, E. coli), menghasilkan exudat berupa pus atau reaksi purulen pada cairan otak. Leukosit, dalam hal ini Neutrofil berperan dalam menyerang mikroba, neutrofil akan hancur menghasilkan exudat.

Serosa. Penyebabnya seperti mycobacterium tuberculosa & virus, terjadi pada infeksi kronis. Peran limfosit & monosit dalam melawan mikroba dengan cara fagositosis, tidak terjadi penghancuran, hasilnya adalah cairan serousa

  • Aseptik & Septik

Aseptik. Bila pada hasil kultur CSF pada pemeriksaan lumbal punksi, hasilnya negative, misalkan penyebabnya adalah virus.

Septik. Bila pada hasil kultur CSF pada pemeriksaan kultur lumbal punksi hasilnya positif , misalkan penyebabnya adalah bakteri pneumococcus.

  1. 3. Etiologi

Meningitis disebabkan oleh berbagai macam organisme, tetapi kebanyakan pasien dengan meningitis mempunyai faktor predisposisi seperti fraktur tulang tengkorak, infeksi, operasi otak atau sum-sum tulang belakang.

  1. Bakteri
  • Mycobacterium tuberculosa
  • Haemophillus influenzae (tipe B)
  • Nesseria meningitis (meningococcal)
  • Diplococcus pneumoniae (pneumococcal)
  • Streptococcus, grup A
  • Staphylococcus aureus
  • Escherichia coli
  • Klebsiella
  • Proteus
  • Pseudomonas
  1. Virus.

Infeksi karena virus ini biasanya bersifat “self-limitting” dimana akan mengalami penyembuhan sendiri dan penyembuhan bersifat sempurna.

  1. Jamur : Candidiasis, Aspergillus, Cryptococcus.
  2. Faktor Predisposisinya :
  • Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada          minggu terakhir kehamilan
  • Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi       imunoglobulin.
  • Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang    berhubungan dengan sistem persyarafan
  1. 4. Patofisiologi
  • Anatomi Dan Fisiologi Selaput Otak

Selaput otak terdiri dari 3 lapisan dari luar kedalam yaitu Durameter, Aranoid, Piameter.

Durameter terdiri dari lapisan yang berfungsi kecuali didalam tulang tengkorak, dimana lapisan terluarnya melekat pada tulang dan terdapat sinus venosus. Falx serebri adalah lapisan vertikal durameter yang memisahkan kedua hemisfer serebri pada garis tengah. Tentorium serebri adalah ruang horizontal dari Durameter yang memisahkan lobus oksipitalis dari serebelum.

Araknoid merupakan membran lembut yang bersatu ditempatnya dengan parameter, diantaranya terdapat ruang subarnoid dimana terdapat arteri dan vena serebral dan dipenuhi oleh cairan serebrospinal. Sisterna magna adalah bagian terbesar dari ruang subaranoid disebelah belakang otak belakang, memenuhi celah diantara serebelum dan medulla oblongata.

Piamater merupakan membran halus yang kaya akan pembuluh darah kecil yang mensuplai darah keotak dalam jumlah yang banyak. Piameter adalah lapisan yang langsung melekat dengan permukaan otak dan seluruh medula spinalis.

  • Patofisiologi

Rute infeksi yang paling sering adalah penyebaran vaskuler dari fokus-fokus infeksi ketempat lain. Contohnya organisme nasofaring menyerang pembuluh-pembuluh darah yang terdapat didaerah tersebut dan memasuki aliran darah keserebral atau membentuk tromboemboli yang melepaskan emboli sepsis kedalam aliran darah. Invasi oleh perluasan langsung dari infeksi-infeksi disinus paranasal dan disinus mastoid jarang terjadi.

Organisme-organisme dapat masuk melalui implantasi langsung setelah luka yang tertembus, fraktur tulang tengkorak yang memberikan sebuah lubang kedalam kulit atau sinus, lumbal fungsi, prosedur pembedahan dan kelainan-kelainan anatomis seperti shunt ventrikuler. Organisme-organisme yang terimplantasi menyebar kedalam cairan serebrospinal oleh penyebaran infeksi sepanjang rongga subaraknoid.

Proses infeksi yang terlihat adalah inflamasi, eksudasi akumulasi leukosit dan tingkat kerusakan jaringan yang bervariasi. Otak menjadi hiperemis, edema, dan seluruh permukaan otak tertutup oleh lapisan eksudat purulen dengan bervariasi organisme.

  • Patoflow

MIKROORGANISME

(Bakteri, Virus, Jamur, Protozoa)

Masuk melalui

hematogen, trauma, prosedur bedah atau rupture serebri

Sistem saraf pusat

Inflamasi di piameter, arachoid, CSF        hidrocefalus

Menyebar ke seluruh saraf cranial dan spinal

Kerusakan Neurologik

  1. 5. Manifestasi klinis
  • Pada meningitis purulenta ditemukan tanda dan gejala :
  1. Gejala infeksi akut atau sub akut yang ditandai dengan keadaan lesu, mual, demam, muntah, penurunan nafsu makan, nyeri kepala.
  2. Gejala peningkatan tekanan intrakranial ditandai dengan muntah, nyeri kepala, penurunan kesadaran ( somnolen sampai koma ), kejang, mata juling, paresis atau paralisis.
  3. Gejala rangsang meningeal yang ditandai dengan rasa nyeri pada leher dan punggung, kaku kuduk, tanda brodsinky I dan II positif dan tanda kerning positif.
    Tanda kerning yaitu bila paha ditekuk 90° ke depan, tuungkai dapat diluruskan pada sendi lutut.
  4. Tanda brudzinky I positif  bila kepala di fleksi atau tunduk ke depan, maka tungkai akan bergerak fleksi di sudut sendi lutut.

Tanda brudzinky II positif bila satu tungkai ditekuk dari sendi lutut ruang paha, ditekankan ke perut penderita, maka tungkai lainnya bergerak fleksi dalam sendi lutut.

Kornign’s Sign positif adalah ekstensi sendi lutut pada posisi fleksi sendi paha 90 derajat akan menimbulkan nyeri sepanjang perjalanan perjalanan nervus insiadicus.

  • Pada meningitis tuberkulosas didapatkan gejala dalam stadium-stadium yaitu :
  1. Stadium prodomal ditandai dengan gejala yang tidak khas dan terjadi perlahan-lahan yaitu demam ringan atau kadang-kadang tidak demam, nafsu makan menurun, nyeri kepala, muntah, apatis, berlangsung 1-3 minggu, bila tuberkulosis pecah langsung ke ruang subaraknoid, maka stadium prodomal berlangsung cepat dan langsung masuk ke stadium terminal.
  2. Stadium transisi ditandai dengan gejala kejang, rangsang meningeal yaitu kaku kuduk, tanda brudzinky I dan II positif, mata juling, kelumpuhan dan gangguan kesadaran.
  3. Stadium terminal ditandai dengan keadaan yang berat yaitu kesadaran menurun sampai koma, kelumpuhan, pernapasan tidak teratur, panas tinggi dan akhirnya meninggal.

  1. 6. Komplikasi

a)      Ketidaksesuaian sekresi ADH

b)      Pengumpulan cairan subdural

c)      Lesi lokal intrakranial dapat mengakibatkan kelumpuhan sebagian badan

d)      Hidrocepalus yang berat dan retardasi mental, tuli, kebutaan karena atrofi nervus II (optikus)

e)      Pada meningitis dengan septikemia menyebabkan suam kulit atau luka di mulut, konjungtivitis.

f)        Epilepsi

g)      Pneumonia karena aspirasi

h)      Efusi subdural, emfisema subdural

i)        Keterlambatan bicara

j)        Kelumpuhan otot yang disarafi nervus III (okulomotor), nervus IV (toklearis ), nervus VI (abdusen). Ketiga saraf tersebut mengatur gerakan bola mata

  1. 7. Pemeriksaan Diagnostik

Diagnostik miningitis akut bakteri tidak dapat dibuat berdasarkan gejala klinis. Diagnosis pasti hanya dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan:

  1. Analisis CSS dari fungsi lumbal :
    1. Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/ berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positif terhadap beberapa jenis bakteri.
    2. Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negatif, kultur virus biasanya dengan prosedur khusus.
    3. Glukosa serum : meningkat ( meningitis )
    4. LDH serum : meningkat ( meningitis bakteri )
    5. Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil (infeksi bakteri )
    6. Elektrolit darah : Abnormal
    7. ESR/LED : meningkat pada meningitis
    8. Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusasa      infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi
    9. MRI/ CT scan  : dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor
    10. Rontgen dada/ kepala/ sinus ; mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial
  • Test dibawah ini membantu untuk menegakkan diagnosa Meningitis             Tuberculosous:
  1. Biopsi Otak atau meningen
  2. Kultur cairan sumsum tulang belakang
  3. Warna sumsum tulang belakang
  4. Test protein, kadar glukosa, dan lymphocytes pada sumsum tulang belakang
  5. Polymerase chain reaction (PCR)
  1. 8. Penatalaksanaan

Terapi bertujuan memberantas penyebab infeksi disertai perawatan intensif

suporatif untuk membantu pasien melalui masa kritis :

  1. Penderita dirawat di rumah sakit
  2. Pemberian cairan intravena
  3. Bila gelisah berikan sedatif/penenang
  4. Jika panas berikan kompres, kolaborasi antipiretik
  5. Sementara menunggu hasil pemeriksaan terhadap kausa diberikan :
    1. Kombinasi amphisilin 12-18 gr, klorampenikol 4 gr, intravena 4x/hari
    2. Dapat dicampurkan trimetropan 80 mg, sulfa 400 mg
    3. Dapat pula ditambahkan ceftriaxon 4-6 gram intra vena
    4. Pada waktu kejang :
      1. Melonggarkan pakaian
      2. Menghisap lendir
      3. Puasa untuk menghindari aspirasi dan muntah
      4. Menghindarkan pasien jatuh
      5. Jika penderita tidak sadar lama :
        1. Diit TKTP
        2. Mencegah dekubitus dan pneumonia ostostatik dengan merubah posisi setiap dua jam

c. Mencegah kekeringan kornea salep antibiotic

  1. Jika terjadi inkontinensia pasang kateter
  2. Pemantauan ketat terhadap tanda-tanda vital

10.  Kolaborasi fisioterapi dan terapi bicara

11.  Konsultasi THT ( jika ada kelainan telinga, seperti tuli )

12.  Konsultasi mata ( kalau ada kelainan mata, seperti buta )

13.  Konsultasi bedah ( jika ada hidrosefalus )

  1. B. Standar Asuhan Keperawatan
  2. 1. Pengkajian
    1. Biodata klien
    2. Riwayat kesehatan yang lalu

1)      Apakah pernah menderita penyait ISPA dan TBC ?

2)      Apakah pernah jatuh atau trauma kepala ?

3)      Pernahkah operasi daerah kepala ?

  1. Riwayat kesehatan sekarang

1)      Aktivitas

Gejala : Perasaan tidak enak (malaise).

Tanda : ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter.

2)      Sirkulasi

Gejala : Adanya riwayat kardiopatologi, endokarditis dan PJK.

Tanda : Tekanan darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat,    takikardi, disritmia.

3)      Eliminasi

Tanda : Inkontinensi dan atau retensi.

4)      Makanan/cairan

Gejala : Kehilangan nafsu makan, sulit menelan. Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek dan membran mukosa kering.

5)      Higiene

Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.

6)      Neurosensori

Gejala : Sakit kepala, parestesia, terasa kaku pada persarafan yang terkena, kehilangan sensasi, hiperalgesia, kejang, diplopia, fotofobia, ketulian dan halusinasi penciuman.

Tanda : letargi sampai kebingungan berat hingga koma, delusi dan halusinasi, kehilangan memori, afasia, anisokor, nistagmus,ptosis, kejang umum/lokal, hemiparese, tanda brudzinki positif dan atau kernig positif, rigiditas nukal, babinski positif,reflek abdominal menurun dan reflek kremastetik hilang pada laki-laki.

7)      Nyeri/keamanan

Gejala : sakit kepala(berdenyut hebat, frontal). Tanda : gelisah, menangis.

8)      Pernafasan

Gejala : riwayat infeksi sinus atau paru. Tanda : peningkatan kerja pernafasan.

  1. 2. Diagnosa keperawatan
    1. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial.
    2. Gangguan volume cairan kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake cairan yang tidak adekuat.
    3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.
    4. Kerusakan integritas kulit (dekubitus) berhubungan dengan tirah baring yang lama akibat penurunan kesadaran.
    5. Potensial terjadinya injuri sehubungan dengan adanya kejang, perubahan status mental dan penurunan tingkat kesadaran
    6. Resiko tinggi terjadinya penyebaran infeksi berhubungan dengan sistem pertahanan primer tidak adekuat, diseminata hematogen dari pathogen.
    7. Resiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/vokal, kelemahan umum vertigo.
    8. Ansietas sehubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian.
  1. 3. Intervensi keperawatan

NO

Diagnosa Keperawatan

Tujuan & Kriteria hasil

Intervensi

1 Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial yang ditandai dengan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien menunjukan keadaan status neurologis yang membaik dengan kriteria hasil :

  • Tanda-tanda vital dalam batas normal yaitu 110 /70 -120 /80 mmHg
    • Kesadaran pasien meningkat GCS 4-5
    • Pasien dapat menggerakkan tangan sesuai perintah
    • Pasien mampu membuka mata
1.1  Pertahankan tirah baring dengan posisi kepala datar

1.1  Pantau / catat status neurologis seperti GCS dengan teratur

1.1  Pantau tanda vital seperti tekanan darah, nadi,suhu,dan respirasi

1.1  Pantau frekuensi / irama jantung

1.1  Kaji adanya           muka, gemetar, gelisah yang meningkat, peka rangsangan

1.1  Batasi aktivitas pasienseperti mengejan saat BAB

1.1  Kolaborasi pemberian cairan sesuai indikasi

1.1  Pantau Gas darah arteri

1.1  Berikan O2 sesuai indikasi

2 Gangguan volume keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake cairan tidak adekuat Setelah dilakukan tindakan keperwatan selama 3 x 24 jam kebutuhan cairan dan elektrolit pasien dapat terpenuhi dengan kriteri hasi :

  • Tidak tampak edema pada palpebra
  • Membran mukosa lembab
  • Turgor kulit baik
  • Tanda-tanda vital menunjukan nilai normal

TD : 110/70 – 120 / 80

mmHg

N : 60-100  x / menit

Rr : 12-24 x / menit

  • S : 36-37 C
2.1  Kaji intake dan output  cairan pasien / 8 jam

2.2  Anjurkan ibu pasien untuk memberikan air putih 800L / hari

2.3  Ajarkan ibu pasien untuk membuat oralit/         pengganti cairan elektrolit tubuh

2.4  Kaji membran mukosa, turgor kulit, dan palpebra

2.5  Monitor hasil laboratorium

2.6  Berikan cairan intra vena sesuai indikasi

2.7  Memonitor tanda-tanda Vital

3 Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam kebutuhan nutrisi pasien dapat terpenuhi dengan kriteri hasil :

  • Pasien dapat meningkat asupan makanan melalui NGT
  • Menunjukan status nutrisi yang lebih baik turgor kulit barh, muka lembab, konjungtiva tidak anemis
  • Hasil laboratorium haemoglobin dan albumin menunjukkan perbaikan / peningkatan
3.1  Kaji status nutrisi pasien ( penampakan wajah,laboratorium)

3.2   Timbang berat badan setiap hari bila memungkinkan.

3.3  Berikan makanan cair dengan tinggi kalori dan protein

3.4  Tingkatkan asupan cairan sesuai dengan indikasi

3.5  Kolaborasi pemberian  albumin

3.6  Monitor Hasil Laboratorium

3.7  Kaji intake dan output makanan

4 Kerusakan integritas kulit (dekubitus ) berhubungan dengan tirah baring yang lama akibat penurunan kesadaran Setelah dilakukan tindakan keperawatan selam 3 x 24 jam, krusakan integritas kulit mengalami perbaikan dengan kriteria hasil :

  • Luka pada area punggung ( pantat ) dan tumit kering
  • Tidak terdapat pus
  • Tidak menunjukkan tanda -tanda infeksi dari area sekitar luka seperti bengkak,pusdan panas
  • Suhu tubuh dalam batas normal 36-37 C
4.1  Kaji adanya luka, edema, lebarnya luka.

4.2  Ubah posisi sesering mungkin minimal 2 jam sekali

4.3  Pijat area penonjolan dengan menggunakan lotion secara lembut

4.4  Berikan pearawatan luka setiap hari

4.5  Berikan bantal / pelindung untuk tumit, siku dan telapak tangan

4.6  Kolaborasi pemberian diit TKTP

5 Potensial terjadinya injuri sehubungan dengan adanya kejang, perubahan status mental dan penurunan tingkat kesadaran Tujuan:

Pasien bebas dari injuri yang disebabkan oleh kejang dan penurunan kesadaran

Mandiri

5.1  monitor kejang pada tangan, kaki, mulut dan otot-otot muka lainnya

5.2  Persiapkan lingkungan yang aman seperti batasan ranjang, papan pengaman, dan alat suction selalu berada dekat pasien

5.3  Pertahankan bedrest total selama fase akut

Kolaborasi

5.4  Berikan terapi sesuai advis dokter seperti; diazepam, phenobarbital, dll.

6 Resiko tinggi terjadinya penyebaran infeksi berhubungan dengan sistem pertahanan tubuh yang tidak adekuat Setelah dilakukan tindakan keperawatan selam 3 x 24 jam, penyebaran infeksi dapat tidak terjadi dengan kritria hasil :

  • Tanda-tanda vital menunjukkan nilai  yang normal

TD ; 110 /70 -120 / 80

mmHg

N ; 60-100 x / menit

Rr ; 12 – 24 x / menit

S ; 36 -37 C

  • Tidak tampak tanda-tanda penyebaran infeksi
  • Hasil laboratorium menunjukkan nilai yang normal Leukosit : 5000- 10000, LED :

< 250 mm

6.1  Pertahankan tehnik aseptik dan septik ( cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan )

6.2 Pantau tanda-tanda vital secara teratur

6.3 Catat karakteristik urin, warna, kejernihan, bau

6.4 Ubah posisi setiap 2 jam sekali

6.5 Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi

6.6 Tingkatkan asupan TKTP pada pasien

6.7 Monitor hasil laborotorium

7 Resiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/vokal, kelemahan umum vertigo. Tujuan:

Kejang tidak terjadi

Kriteria hasil:

  • tanda-tanda vital normal
  • tanda-tanda kejang tidak ada
Mandiri

7.1 Pantau adanya kejang

7.2 Pertahankan penghalang tempat tidur tetap terpasang dan pasang jalan nafas buatan

7.3   Tirah baring selama fase akut kolaborasi berikan obat : venitoin, diazepam, venobarbital.

8 Ansietas sehubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian. Tujuan:

Ansietas tidak terjadi:

Kriteria hasil:

  • tidak selalu bertanya
  • mampu menjelaskan kembali tindakan yang dilakukan terhadap pasien.
8.1 Kaji status mental dan tingkat ansietasnya.

8.2  Berikan penjelasan tentang penyakitnya dan sebelum tindakan prosedur.

8.3  Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan.

8.4  Libatkan keluarga/pasien dalam perawatan dan beri dukungan serta petunjuk sumber penyokong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: